Aku ingin bercerita tentang rinduku yang menggebu.
Tentang rinduku yang tiada bertepi.
Dia adalah abdi pertiwi, Salah seorang prajurit kopassus pada operasi seroja 1975.
Sosoknya selalu membuat hari - hari ku indah. Ceritanya selalu menjadi hal yang aku tunggu.
Dia begitu gagah, tampan, dan penuh kasih.
Bukan sebagai putra terbaik bangsa, tapi sebagai pemimpin di keluarga kecil Kami. Dia adalah ayah. Siapa saja tahu bahwa ialah pahlawanku.
Ayah, Aku merindu.
Melihat orang lain bisa menyampaikan kasihnya, Aku merasa iri.
Melihat kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, Aku merasa dengki.
Ayah, kau telah menyelesaikan tugasmu pada negara dengan baik. Aku sangat bangga. Dan kau meninggalkanku beberapa waktu lalu setelah menyelesaikan tugasmu Di dunia terlebih dahulu, itu membuatku sangat sedih.
Ayah, sulit untukku sampaikan rindu ini ketika Batu Nisan menjadi pembatas Kita. Tetapi Aku tahu, Tuhan akan menyampaikannya.
Ayah, Aku akan baik-baik saja. Aku akan hibur ibu dan menjaga nya. Aku disini, seperti katamu untuk menjadi adik dan kakak yang baik.
Maaf, karna aku masih menjadi putri mu yang sering menangis. Aku masih menjadi putri mu yang tidak tahan dengan rasa sakit.
Senandung lirih dariku, putri kesayanganmu. Hanum.
Comments
Post a Comment